2012-12-25

PENENTUAN KADAR KADAR GOLONGAN SULFONAMIDA BERDASARKAN REAKSI DIAZOTASI DAN KOPLING SECARA KOLORIMETRI/SPEKTROFOTOMETER VISIBEL


A.    Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan kadar golongan sulfonamida berdasarkan reaksi diazotasi dan kopling secara kolorimetri/ spektrofotometer visibel.
B.     Landasan Teori
Metoda spektrofotometri uv-vis adalah salah satu metoda analisis kimia untuk menentukan unsur logam, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Analisis secara kualitatif berdasarkan pada panjang gelombang yang ditunjukkan oleh puncak spektrum (190 nm s/d 900 nm), sedangkan analisis secara kuantitatif berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media. Intensitas ini sangat tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada media tersebut. Pembentukan warna dilakukan dengan cara menambahkan bahan pengompleks yang selektif terhadap unsur yang ditentukan     (Fatimah, 2009).
 Diazotasi adalah reaksi antara amin aromatis primer dengan asam nitrit yang berasal dari natrium nitrit dalam suasana asam untuk membentuk garam diazonium. Metode ini hampir digunakan terhadap sulfadiazin dan senyawa lain yang mempunyai gugus amin aromatis primer bebas atau yang pada hidrolisis atau reduksi mampu menghasilkan amin aromatis primer bebas atau yang pada hidrolisis atau reduksi mampu menghasilkan amin aromatis primer (http://pharmacyaurel.blogspot.com/2009_11_01_archive.html).
Diazotasi ini telah digunakan secara umum untuk penetapan senyawa-senyawa dalam industri zat warna, senyawa farmasi dan dapat dipakai untuk penetapan semua senyawa-senyawa yang mengandung gugus amina aromatis primer (Wiadnya, 2012).
Penggunaan utama spektrofotometri UV-Vis adalah dalam  analisis kuantitatif. Spektrofotometri UV Vis digunakan dalam penentuan kadar senyawa organik yang mempunyai struktur kromofor atau mengandung gugus kromofor. Penentuan kadar dilakukan dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang maksimum (puncak kurva), agar dapat memberikan absorbansi tertinggi untuk setiap konsentrasi (Cahyadi, 2006).
Sulfamerazina (FI edisi III hal. 584), (NH2SO2NHCH3N(4-metil,2pirimidinil)–sulfanilamida merupakan serbuk atau hablur, putih atau agak kekuningan : tidak berbau rasa agak pahit, mantap di udara kalau cahaya langsung lambat laun warna menjadi tua. Kelarutannya sangat sukar larut dalam air, dalam kloroform p , dan dalam eter p,  sukar larut dalam  etanol (95%) p, agak sukar larut dalam aserton p, mudah larut dalam asam mineral encer dan dalam larutan alkalihidroksida. Khasiat sulfamerazine adalah sebagai antibakteri.
Struktur Sulfamerazine

Sulfadiazina (FI edisi III hal 579), NH2SO2NHN2-pirimidinil-sulfanilamida merupakan serbuk atau hablur, putih kekuningan atau putih agak merah jambu hampir tidak berbau dan tidak berasa. Kelarutannya praktis tidak  larut dalam air, agak sukar larut dalam  etanol (95%) p, agak sukar larut dalam aserton p, mudah larut dalam asam mineral encer dan dalam larutan alkalihidroksida. Khasiat sulfadiazine adalah sebagai antibakteri.
Struktur Sulfadiazine
C.     Alat dan Bahan
1.      Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
-       Spektrofotometer visibel
-       Gelas kimia 100 mL
-       Batang pengaduk
-       Pipet volume 5 mL
-       Timbangan analitik
-       Labu ukur 100 ml
-       Filler
-       Labu takar 100 mL            
-       Oven
-       Klem dan statif
-       Pipet tetes
-       Botol semprot

2.      Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
-       Bahan obat murni (Sulfadiazin, Sulfamerazin)
-       Pereaksi kopling (0,1 %). (100 mg N-(1-Naftil) etilendiamin dalam 100 ml air)
-       Larutan HCl 0,02 N dan 0,5 N
-       Pereaksi NaNO2 0.1 %
-       Amonium sulfamat 0.5 %
-       Fenolftlie
D.    Prosedur Kerja
1.      Pembuatan larutan standar


 





2.      Preparasi sampel trisulfa

















3.      Pembutan larutan blanko


 











4.        Penentuan λ maks


 








Hasil Pengamatan ..?



5.      Pengukuran absorbansi sampel


 





          Hasil Pengamatan ..?

E.     Hasil Pengamatan
          Berdasarkan percobaan yang dilakukan, diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut;
1.      Tabel Hasil Pengamatan
No.
Panjang Gelombang (nm)
Absorbansi
1.
450
1,820
2.
460
2,025
3.
470
1,948
4.
462
1,899
5.
464
1,949
6.
466
1,972



2.      Perhitungan
a)    Penentuan kurva standar Sulfadiazin
Konsentrasi (C)
Absorbansi
10
0,584
8
0,58
6
0,576
4
0,568
2
0,506
Sampel
0,586


b)      Penentuan konsentrasi sampel
Konsentrasi standar = konsentrasi stok
 =
x = 50 mg
Kadar Sampel (Sulfadiazin) =
 =  = 15 mg
Dik : Persamaan garis : y = 0,008x + 0,512
                                        y = 0,856 Ǻ
Penyelesaian:
0,856 = 0,008x + 0,512
       x =
       x = 43 mg

F.     Pembahasan

Spektrofotometri adalah analisa instrument yang membahas tentang molekul dan radiasi elektromagnetik obat golongan sulfadiamida yang mempunyai struktur umum. Spektrofotometri adalah suatu metode analisi kimia yang di gunakan untuk menerapkan kadar suatu zat atau senyawa obat dengan menggunakan alat yang biasa di sebut spektrofotometer.
Prinsip kerja spektrofotometer adalah menggunakan instrumen obat atau molekul dengan radiasi elektromagnetik, yang energik nya sesuai. Interaksi tersebut akan meningkatkan energi potensi elektron pada tingkat aksitan. Apabila pada molekul yang sederhana tadi hanya terjadi transisi elektronik pada suatu macam gugus maka akan terjadi suatu absorbsi yang merupakan garis spektrum.
Obat golongan sulfanamida yang mempunyai struktur umum C6H4-5-4-NHR3 mengabsorbsi cahaya dalam daerah ultraviolet karena mengandung kromotor fenil. Namun tidak memperlihatkan absorbs yang persis sama karena gugus R dapat menyebabkan absorbsi tambahan mengubah sifat spektrum aromatik dasar nya. Spektrum ini kuat sehingga memungkinkan untuk menganalisis obat dalam percobaan ini, diadakan pengukuran spektrum absorbsi senyawa campuran sulfanamida. Analisis kuantitatif secara spektrofotometri di lakuakan pada larutan yang mengandung senyawa tunggal maupun campuran beberapa komponen.
Umumnya golongan sulfonamide mengandung gugus amin aromatis primer (Ar-NH2), apabila direaksikan dengan asam nitrit dengan pemberian pereaksi pengkopling dari senyawa N-(1-Naftil) etilendiamin, sehingga menghasilkan derivat garam diazonium yang berwarna (reaksi diazotasi). Diazotasi adalah reaksi antara amin aromatis primer dengan asam nitrit yang berasal dari natrium nitrit dalam suasana asam untuk membentuk garam diazonium.
Adapun reaksi diazotasi, dapat dituliskan sebagai berikut :
Ar – NH2 + HNO2            Ar – N2+Cl- + H2O                  (1)
Reaksi diazotasi secara keseluruhan dapat dijelaskan bahwa kemungkinan reaksi dimulai dengan terjadinya nitrosasi amin (2), yang diikuti tautomerisasi nitroso amin (3) dan peruraian diazohidroksida (4), seperti berikut :
Ar – NH2 + HNO2                                    Ar – NH – N = O + H2O        (2)
Ar – NH – N = O                          Ar – N = N – OH                    (3)
Ar – N = N – OH + HCl               Ar – N = N+ Cl- + H2O           (4)
Penjumlahan ketiga reaksi di atas menghasilkan reaksi (1) yang merupakan dasar analisis kalorimetri untuk diazotasi gugus amin aromatis.
Untuk mengetahui kadar sulfadiazin, dilakukan beberapa kali pengenceran dengan mengunakan beberapa konsentrasi yaitu 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm,10 ppm, dengan menggunakan alat yang di sebut spektrofotometer. Pengenceran ini di lakukan karena sampel sukar larut dalam air, tetapi larut dalam alkali hidroksida.
Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan yang telah dilakuan pada sulfadiazina, dapat diketahui bahwa hubungan antara konsentrasi (ppm) dengan nilai absorben (a) tegak lurus, sehingga dapat di simpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi sulfadiazina, maka nilai absorbennya atau daya tembus cahaya yang di lewati sampel semakin besar berdasarkan hasil perhitungan, maka di dapatkan nilai nilai y sebesar 0,856 Ǻ dan kadar sulfadiazin yang diperoleh adalah 43 mg.
Adapun faktor – faktor yang dapat mempengaruhi dalam perhitungan pada percobaan ini adalah :
1.      Kesalahan dalam penempatan sampel.
2.      Kurang teliti dalam melakukan pengenceran sampel.
3.      Alat dan bahan kurang steril dan telah terkontaminasi.

G.    Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh kadar sulfadiazin yakni 43 mg.
DAFTAR PUSTAKA

Cahyadi, W. 2008. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan TambahanPangan. Bumi Aksara : Jakarta.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI: Jakarta.
Fatimah S, Iis Haryati dan Agus Jamaludin. Pengaruh Uranium Terhadap Analisis Thorium Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Seminar Nasional V, ISSN 1978-0176. SDM Teknologi Nuklir Yogyakarta, 5 November 2009.

Wiadnya IBR, Ganden Supriyanto dan Handoko D. Pengembangan Metode Analisis Melamin Dalam Produk Susu Berbasis Reaksi Diazotasi dengan Senyawa Pengkoupling β-Naftol. Jurnal Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Vol. 15 No. 1, Januari 2012. Politeknik Kesehatan, Kemenkes Mataram, Program Studi S2 Kimia, Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga.



PENENTUAN KADAR MULTIKOMPONEN CAMPURAN ASETOSAL, PARASETAMOL DAN KOFEIN SECARA SPEKTROFOTOMETER UV-VIS

      A.    Tujuan
Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk menetukan kadar multikomponen campuran asetosal, parasetamol dan kofein secara spektrofotometer ultraviolet.

B.     Dasar Teori

            Spektrofotometer UV-Vis (Ultra Violet-Visible) adalah salah satu dari sekian banyak instrumen yang biasa digunakan dalam menganalisa suatu senyawa kimia. Spektrofotometer umum digunakan karena kemampuannya dalam menganalisa begitu banyak senyawa kimia serta kepraktisannya dalam hal preparasi sampel apabila dibandingkan dengan beberapa metode analisa (Herliani, 2008).
            Pengukuran menggunakan alat spektrofotometri UV-Vis ini didasarkan pada hubungan antara berkas radiasi elektromagnetik yang ditransmisikan (diteruskan) atau yang diabsorpsi dengan tebalnya cuplikan dan konsentrasi dari komponen penyerap. Berdasarkan hal inilah maka untuk dapat mengetahui konsentrasi sampel berdasarkan data serapan (A) sampel, perlu dibuat suatu kurva kalibrasi yang menyatakan hubungan antara berkas radiasi yang diabsorpsi (A) dengan konsentrasi (C) dari serangkaian zat standar yang telah diketahui (Henry dkk, 2002).
        
            Kafein merupakan senyawa kimia alkaloid terkandung secara alami pada lebih dari 60 jenis tanaman terutama teh (1- 4,8 %), kopi (1-1,5 %), dan biji kola(2,7-3,6 %) (Misra et al, 2008). Kafein (1,3,7-Trimethylxanthine) adalah kerabat mehylxantin yang secara luas tersebar di banyak jenis tumbuhan. Kafein juga dimanfaatkan manusia sebagai produk makanan dan minuman seperti teh, kopi dan coklat. Dalam bidang farmasi, kafein biasanya digunakan untuk pengobatan jantung, stimulant pernapasan dan juga sebagai peluruh kencing    (Yu dkk, 2009). Kafein berbentuk serbuk atau hablur bentuk jarum mengkilat biasanya menggumpal, putih, tidak berbau dan rasa pahit. Agak sukar larut dalam air dan dalam etanol (95%) p, mudah larut dalam kloroform p, sukar larut dalam eter p (Dirjen POM, 1979). Memiliki rumus struktur sebagai berikut:
Struktur Parasetamol
Parasetamol atau asetaminofen adalah turunan a-para-aminophenol memiliki khasiat sebagai analgesik, antipiretik, dan aktivitas antiradang yang lemah. Parasetamol merupakan analgesik non-opioid sering dicoba pertama untuk pengobatan gejala berbagai tipe sakit kepala termasuk migrain dan sakit kepala tipe tensi (Sweetman, 1982). Parasetamol (C8H9NO2) mengandung tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket Pemerian parasetamol berupa serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit. Kelarutan, larut dalam 70 bagian air, 7 bagian (85%), 13 bagian aseton P, 40 bagian gliserol dan 9 bagian propilenglikol P serta larut dalam alkali hidroksida (Dirjen POM, 1979).
                                               
Asam asetilsalisilat mempunyai nama sinonim asetosal, asam salisilat asetat dan yang paling terkenal adalah aspirin. Serbuk asam asetil salisilat dari tidak berwarna atau kristal putih atau serbuk granul kristal yang berwarna putih.. Nilai titik lebur dari asam asetil salisilat adalah 135oC. Asam asetilsalisilat larut dalam air (1:300), etanol (1:5), kloroform (1:17) dan eter (1:10-15, Asam asetilsalilsilat larut dalam larutan hidroksida dan karbonat (Dirjen POM, 1979).

C.    Alat dan Bahan

1.      Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu:
·         Labu takar 100 mL
·         Pipet ukur 25 mL
·         Filler
·         Statif dan Klem
·         Buret
·         Lumpang dan alu
·         Gelas kimia
·         Spektrofotometer  uv
·         Timbangan analitik
·         Batang pengaduk
·         Pipet tetes
·         Botol semprot
·         Erlenmeyer

2.      Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu:
·         Sediaan obat “Poldanmig”
·         Bahan obat murni (asetosal, parasetamol dan kofein)
·         Etanol 95%
·         Akuades
·         Alumunium foil

D.    Prosedur Kerja

1.      Pembuatan larutan standar
Bahan Obat Murni (Parasetamol, Kofein)
-     Ditimbang masing-masing 0,5 mg
-     Ditambahkan etanol 5 ml
-     Diencerkan dalam 100 mL dengan aquadest dalam labu takar 100 mL
-     Digojok hingga larut
Larutan Standar :
Paarsetamol  5 mg/ml
Kofein 5 mg/ml
Bahan Obat Murni (Asetosal)
-     Ditimbang 0,25 mg
-     Ditambahkan etanol 5 ml
-     Diencerkan dalam 100 mL dengan aquadest dalam labu takar 100 mL
-     Digojok hingga larut
Larutan Standar :
Asetosal  2,5 mg/ml

 


















2.     
Larutan Standar
-     Dibuat dalam 5 macam konsentrasi (1, 2, 3, 4 dan 5)
-     Diukur absorbansi dari masing-masing konsentrasi pada λ = 297 (asetosal), λ = 305,8 (parasetamol)  dan λ 301,6 (kofein)
-     Dibuat kurva standar dan persamaan garisnya
Hasil Pengamatan
Pembuatan Kurva Kalibrasi











3.      Penentuan kadar asetosal, parasetamol dan kofein dalam sediaan
Bahan obat (serbuk poldanmig)
-     Ditimbang sebanyak 0,1 mg
-     Dilarutkan sampai 100 Ml dengan etanol 70%
-     Diukur absorbansi pada λ = 297 (asetosal), λ = 305,8 (parasetamol)  dan λ = 301,6 (kofein)
-     Ditentukan kadarnya menggunakan persamaan kurva standar
Hasil Pengamatan
 


E.     Hasil Pengamatan

1.      Kurva Penentuan Panjang Gelombang Maksimal
a.    Asetosal
λ maks = 297 nm
b.      Paracetamol
λ maks = 305,8 nm







c.       Kafein
λ maks = 301,6

2.      Kurva hubungan Konsentrasi vs Absorbansi
a.      Asetosal

b.      Paracetamol


c.       Kafein
3.      Tabel hasil Pengamatan
a.    Larutan standar
No.
Nama bahan
λ maks (nm)
Konsentrasi (mg/mL)
Absorbansi
1
Asetosal
297
0,5
1
1,5
2
2,5
1,267
1,408
1,551
1,598
1,649
2
Paracetamol
305,8
1
2
3
4
5
1,815
1,823
1,838
1,946
1,85
3
Kafein
301,6
1
2
3
4
5
1,452
1,634
1,721
1,756
1,742

b.       Larutan sampel
No.
Nama bahan
λ maks (nm)
Konsentrasi (mg/mL)
Absorbansi
1
Asetosal
297
2,8243
1,764
2
Paracetamol
305,8
1.3795
1,6
3
Kafein
301,6
3,6844
1,723
c.       Perhitungan
a.       Asetosal
Konsentrasi sampel (y) = 2,824
y          = 0,095x + 1,208
2,824   = 0,095x  + 1,208
0,095x = 2,824- 1,208
x          =  
            = 17,01
b.      Parasetamol
Konsentrasi sampel (y) = 1,380
y          = 0,019x + 1,796
1,380   = 0,019x  + 1,796
0,019x = 1,380- 1,796
x          =  
            = 21,894
c.       Kofein
Konsentrasi sampel (y) = 3,684
y          = 0,070x + 1,450
3,684   = 0,070x  + 1,450
0,070x = 3,984- 1,450
x          =  
            = 31,914



F.     Pembahasan

Pada percobaan ini dilakukan penentuan kadar campuran multikomponen asetosal, parasetamol, dan kofein yang terdapat dalam sediaan obat ‘poldanmig’ dengan menggunakan spektrofotometri ultraviolet. Prinsip dasar Spektrofotometri UV-Vis adalah serapan cahaya. Bila cahaya jatuh pada senyawa, maka sebagian dari cahaya diserap oleh molekul-molekul sesuai dengan struktur dari molekul senyawa tersebut. Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum UV-Vis tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektra UV-Vis dari senyawa-senyawa organik berkaitan erat dengan transisi-transisi diantara tingkatan-tingkatan tenaga elektronik. Radiasi ultraviolet dan sinar tampak diabsorpsi oleh molekul organik aromatik, molekul yang mengandung elektron-π terkonjugasi dan atau atom yang mengandung elektron-n, menyebabkan transisi elektron di orbital terluarnya dari tingkat energi elektron tereksitasi lebih tinggi. Besarnya serapan radiasi tersebut sebanding dengan banyaknya molekul analit yang mengabsorpsi sehingga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif.
Pemilihan spektrofotometer UV-Vis adalah karena spektrofotometer merupakan instrument analisis yang tidak rumit, selektif, serta kepekaan dan ketelitiannya tinggi. Selain itu,  senyawa asetosal, parasetamol dan kofein yang akan dianalisis memiliki kromofor pada strukturnya berupa ikatan rangkap terkonjugasi dan juga merupakan senyawa aromatik karena memiliki gugus aromatik sehingga memenuhi syarat senyawa yang dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
Dalam percobaan ini, metode analisis yang digunakan adalah metode kurva kalibrasi. Dalam metode ini dibuat suatu larutan standar dari asetosal, parasetamol dan kofein dengan berbagai konsentrasi dan absorbansi dari larutan tersebut diukur spektrofotometer UV-Vis. Langkah selanjutnya adalah membuat grafik antara konsentrasi(C) dengan absorbansi (A) yang merupakan garis lurus yang melewati titik nol dengan slobe =  atau = a.b. konsentrasi larutan sampel dapat dicari setelah absorbansi larutan sampel diukur dan diintrapolasi ke dalam kurva kalibrasi atau dimasukkan ke dalam persamaan garis lurus yang diperoleh dengan menggunakan program regresi linear pada kurva kalibrasi.
Karena menggunakan metode analisis kurva kalibrasi maka larutan standar (senyawa murni obat) dibuat dalam 5 konsentrasi. Dalam percobaan ini dibuat larutan baku dengan konsentrasi masing-masing untuk parasetamol dan kofein yaitu 5; 4; 3; 2; 1; mg/ml dan asetosal dengan konsentrasi 2,5; 2; 1,5; 1; 0,5 mg/ml. Sebelum dilakukan pengukuran serapan, maka masing-masing komponen harus ditentukan panjang gelombang maksimumnya terlebih dahulu. Alasan penggunaan panjang gelombang maksimum (λ maks) yakni panjang gelombang maksimum memiliki kepekaan maksimal karena terjadi perubahan absorbansi yang paling besar serta pada panjang gelombang maksimum bentuk kurva absorbansi memenuhi hukum Lambert-Beer. Dari percobaan ini diperoleh panjang gelombang maksimum untuk asetosal adalah 297 nm, parasetamol 305,8 nm, dan kofein 301,6 nm.
Larutan blanko yang digunakan adalah etanol. Digunakan blanko etanol karena pelarut yang digunakan untuk melarutkan sampel adalah etanol. Penggunaan etanol sebagai pelarut dikarenakan ketiga sampel yaitu asetosal, parasetamol dan kofein hanya sedikit larut dalam air. Seperti diketahui bahwa ketiga sampel tersebut terdiri dari gugus polar dan gugus nonpolar dimana apabila dilarutkan dengan air maka hanya bagian polar yang dapat larut. Oleh karenanya maka digunakan pelarut etanol karena etanol memiliki gugus polar dan non polar sama halnya seperti sampel. Sehingga bagian yang polar akan melarutkan bagian polar pada sampel dan bagian nonpolar akan melarutkan bagian nonpolar pada sampel.
Setelah persamaan garis diperoleh maka kadar asetosal, parasetamol dan kofein masing-masing dapat dihitung. Pengukuran konsentrasi obat dalam sampel berdasarkan hokum lambert-beer. Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan linieritas antara absorban dengan konsentrasi larutan analit dan berbanding terbalik dengan transmitan. Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan, yaitu : Sinar yang digunakan dianggap monokromatis; penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang yang sama; senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut; tidak terjadi fluorensensi atau fosforisensi ; serta indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan. Hasil perhitungan yaitu untuk asetosal besar kadarnya adalah 17,01%, parasetamol 21,894% dan kadar kofein 31,914%.





DAFTAR PUSTAKA


Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan: Jakarta.

Henry,A. Suryadi MT. Arry Y,. 2002. “Analisis Spektrofotometri UV-Vis Pada Obat Influenza Dengan Menggunakan Aplikasi Sistem Persamaan Linier”. KOMMIT. Universitas Gunadarma
Herliani, An an. 2008. Spektrofotometri. Pengendalian Mutu Agroindustri. Program D4-PJJ.
Misra H, D. Mehta, B.K. Mehta, M. Soni, D.C. Jain. 2008. Study of Extraction and HPTLC – UV Method for Estimation of Caffeine in Marketed Tea (Camellia sinensis) Granules. International Journal of Green Pharmacy: 47-51.

Yu Chi Li, Tai Man Louie, Ryan Summers, Yogesh Kale, Sridhar Gopishetty, and Mani Subramanian, Two Distinct Pathways for Metabolism of Theophylline and Caffeine Are Coexpressed in Pseudomonas putida CBB5, JOURNAL OF BACTERIOLOGY, July 2009, p. 4624–4632 Vol. 191, No. 14. Center for Biocatalysis & Bioprocessing and Department of Chemical & Biochemical Engineering,The University of Iowa, Iowa City, Iowa 52242 Received 26 March 2009/Accepted 7 May 2009